Selasa, 29 Oktober 2013

Lakukanlah dari Hal Terkecil Untuk Lingkungan yang Lebih Baik



            Masalah lingkungan merupakan masalah yang menyangkut kepentingan orang banyak. Apabila masalah ini tidak diselesaikan maka efeknya tidak hanya menimpa manusia itu sendiri, tetapi juga flora dan fauna di sekitar ekosistem tersebut. Ada banyak contoh masalah lingkungan yang terjadi, diantaranya adalah pencemaran, perubahan iklim, pemanasan global dan juga krisis energi termasuk didalamnya.  Hal ini tentunya tidak bisa diselesaikan oleh salah satu pihak saja, tetapi harus melibatkan berbagai stakeholder.
            Jika ditinjau dari sisi sejarah, masalah lingkungan mulai mendapat perhatian sekitar tahun 1950-an. Saat itu, sebagian orang terutama di Eropa dan Amerika sudah mulai concern mengenai masalah lingkungan ini. Implementasi nyata dari kepedulian ini tercetusnya dalam Deklarasi Stockhlom tanggal 5 Juni 1972 dengan Swedia sebagai tuan rumah sekaligus inisiator. Inilah cikal bakal kepedulian berbagai negara terhadap lingkungan. Oleh karena itu, tanggal 5 Juni dijadikan sebagai Hari Lingkungan Hidup.
            Dalam lingkup yang luas, negara telah berkontibusi dan berperan aktif dalam berbagai  conference  internasional, meratifikasi berbagai kesepakatan dan perjanjian internasional mengenai lingkungan, seperti Protokol Kyotto.  Negara juga turut andil untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini tercermin dari berbagai program kerja dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Sebagai warga negara dan individu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita hanya berdiam diri dan menutup mata atas setiap masalah lingkungan yang terjadi? Tentu saja tidak. Kita bisa melakukannya dari hal yang kecil sekalipun, bahkan termasuk hal yang sangat sepele, tetapi jika melakukannya, apalagi dilakukan oleh banyak orang maka kita turut berperan serta dalam upaya menjaga dan melestarikan lingkungan.

PAHAMI
            Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus memahami bahwa keputusan (bahkan keputusan kecil sekalipun) yang kita ambil untuk melakukan sesuatu dapat mempunyai pengaruh yang sangat besar. Keputusan individu secara agregasi bisa mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Sebagai contoh, pada mulanya kemacetan di Jakarta hanya terjadi pada pukul 16.30-18.00 WIB. Akan tetapi karena keputusan individu-individu untuk pulang kantor pada pukul 19.00 menyebabkan kemacetan di Jakarta menjadi semakin lama yakni dari pukul 16.30-17.30 WIB. Bahkan saat ini kemacetan di Jakarta dimulai dari pukul 15.30-21.00 WIB. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam mengambil keputusan, jika keputusan yang Anda ambil untuk melakukan sesuatu-juga dilakukan oleh orang lain secara agregasi maka efek dari hal tersebut juga sangat besar.

IMPLEMENTASI
Tidur dengan mematikan lampu. Ada sebagian orang yang tidak bisa tidur jika lampu di kamarnya dimatikan. Hal ini tentu tidak ramah lingkungan karena pemborosan energi yang implikasi lebih jauh dapat mencemari lingkungan karena banyaknya energi sumberdaya alam yang terbuang percuma. Alangkah lebih bijaksana jika tidur dengan mematika lampu. Jikalau tidak bisa maka cobalah secara bertahap. Dimulai dari memakai lampu dengan memakai lampu hemat energi kemudian dengan memakai lampu dengan daya dan pencahayaan yang rendah dan dilanjutkan dengan mematikan lampu.
Menunggu angkot di terminal. Jikalau kita tidak menunggu angkot di terminal maka yang terjadi adalah kemacetan karena angkot akan mencari penumpang di luar terminal, mereka akan mengambil area badan jalan sehingga timbullah kemacetan. Berdasarkan penelitian, kendaraan yang diam (ngetem) membuang energi lebih banyak daripada kendaraan yang berjalan. Oleh karena itu, saat kemacetan terjadi, sangat banyak energi yang terbuang percuma dan  implikasi lainnya adalah tingginya tingkat pencemaran.
Mandi 2 kali sehari dan menggunakan shower. Mandi dengan menggunakan shower lebih hemat daripada menggunakan gayung karena volume air yang dikeluarkan lebih sedikit daripada dengan menggunakan gayung. Sudah kita ketahui bersama bahwa di sebagian di daerah di Indonesia ada yang kekurangan air bersih, apalagi di musim kemarau, sangat sulit untuk mendapatkan air. Air untuk mandi dan mencuci saja sudah sulit, apalagi air untuk irigasi. Akibatnya adalah banyak hasil pertanian yang gagal panen sehingga petani menanggung kerugian. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita untuk menghemat air.
            Sudah saatnya kita untuk hemat dalam menggunakan sumberdaya apapun. Kita bisa melakukannya dalam hal kecil sekalipun. Demi kelestarian lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar