Senin, 21 November 2011

Dampak Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan adalah suatu peristiwa dimana api membakar bahan bakar bervegetasi, yang terjadi di dalam kawasan hutan yang menjalar secara bebas dan tidak terkendali ( Syaufina dalam Surnayanti et al 2009). Kebakaran hutan menjadi masalah yang penting untuk segera diatasi karena berbagai dampaknya yang luas bagi manusia dan lingkungannya sehingga efek lebih jauhnya dapat berimplikasi pada kelanjutan kehidupan manusia. Dampaknya tidak hanya dampak positif saja namun juga dampak negatif yang dapat menimbulkan kerugian baik dari aspek ekologi maupun dari aspek sosial, ekonomi, kesehatan, hingga budaya.

Kebakaran hutan sering terjadi di Indonesia. Apalagi didukung dengan iklim tropis Indonesia membuat kebakaran hutan seolah-olah menjadi hal yang biasa dan umum terjadi. Berdasarkan data yang diperoleh dari Publikasi Ilmiah CIFOR (2003) menyatakan bahwa pada tahun 1997-1998 tipe vegetasi pertanian merupakan wilayah yang paling banyak dilanda kebakaran dengan luas 3,8 juta ha, selanjutnya hutan dataran rendah 3,2 juta ha, hutan payau dan gambut 1,4 juta ha, semak dan rumput kering 700 ribu ha, dan vegetasi lainnya yang jumlahnya tidak terlalu besar. Kebakaran pada tahun ini merupakan kebakaran hutan terbesar yang terjadi di Indonesia dengan luas sekitar 10 juta ha. Ditaksir kerugian yang dialami sekitar 10 milyar dollar.

Sebelumnya juga telah ada peristiwa kebakaran hutan yang terjadi. Berdasarkan data dari World Resources Institute (2003) pada tahun 1982-1983 terjadi kebakaran hutan di Kalimantan Timur dengan luas 3,2 juta ha yang diakibatkan oleh pengelolaan hutan yang buruk dan faktor iklim El Nino. Pada tahun 1991 kebakaran di kalimantan Timur kembali terjadi hingga tahun 1994 dengan luas lahan yang terbakar sekitar 5 juta ha. Kebakaran tidak hanya terjadi di Pulau Kalimantan namun juga hampir di seluruh pulau di Indonesia. Pada tahun 1997-1998 tercatat bahwa Pulau Sumatera, Jawa, sulawesi dan Papua juga mengalami kondisi kebakaran hutan walaupun jumlahnya tidak seluas di Kalimantan. Pada tahun itu, total luas kawasan yang terbakar mencapai 6,5 juta ha sedangkan Pulau Sumatera hanya 1, 7 juta ha, Papua 1 juta ha, Sulawesi 400 ribu ha, dan Pulau Jawa 100 ribu ha.

Menurut Westlands International (2005), lebih dari 99% kebakaran hutan dan lahan gambut disebabkan oleh aktivitas manusia, yaitu pembakaran vegetasi, aktivitas dalam pemanfaatan sumberdaya alam, pengusahaan lahan, perburuan satwaliar, dan pembukaan lahan yang menggunakan api sebagai bahan pembantunya. Biasanya dalam membuka suatu vegetasi agar dijadikan tempat perkebunan ataupun pemukiaman, maka dilakukanlah pembakaran lahan. Hal ini dilakukan karena dengan melakukan pembakaran biaya yang dikeluarkan akan lebih murah dan pekerjaan yang dilakukan pun menjadi lebih praktis. Selain itu pada pembukaan lahan untuk areal perkebunan dan pertanian ada anggapan yang menyatakan bahwa pembukaan lahan yang dilakukan dengan melakukan pembakaran akan menjadikan tanah menjadi lebih subur. Tidak hanya itu, sistem pertanian yang digunakan mempengaruhi pada pembakaran hutan, seperti sistem perladangan berpindah yang sangat merugikan dari sisi ekologis karena menyebabkan kerusakan lingkungan yang cukup besar.

Beberapa akibat yang ditimbulkan dari kebakaran hutan pun menimbulkan berbagai dampak yang terjadi. Dari aspek ekologi salah satunya adalah kerusakan tanah yang menurunkan sifat biologi tanah dan rusaknya tanah secara fisik seperti pemadatan tanah dan struktur tanah menjadi rusak (Wasis 2003). Penurunan sifat biologi tanah seperti menurunnya mikroorganisme, total fungi yang ditimbulkan. Kondisi ini tentunya sangat merugikan karena mikroorganisme berperan dalam meningkatkan produktivitas lahan seperti keberadaan bakteri penambat nitrogen dan bakteri pelarut fosfat yang membantu ketersediaan unsur hara dapat hilang. Pembakaran tanah menyebakan pemadatan tanah yang terlihat dari meningkatnya bulk density (kerapatan limbak) dan porositas tanah. Efek lain dari kebakaran hutan meningkatkan sangganan tanah seperti KTK tanah, pH tanah dan kejenuhan basa. Meningkatnya sangganan tanah secara langsung akan meningkatkan ketersedian unsur hara (Wasis 2003). Jika demikian yang terjadi, maka dapat terjadi destruksi mikroflora dan mikrofauna pada top soil dan tumbuhan bawah di hutan yang dapat mempengaruhi proses dekomposisi dan kesuburan tanah (Narendran 2001).

Dalam aspek ekonomi, kebakaran hutan menyebakan kerugian material yang besar. Menurut International Forest Fire News (2005) menyatakan bahwa kebakaran hutan yang terjadi di Turki mengakibatkan kerugian hingga 8 juta Dollar Amerika. Kemudian belajar dari kasus di Jambi dimana kebakaran hutan telah mengganggu aktivitas penerbangan sehingga mengakibatkan penumpukkan barang di bandara. Efek samping dari hal ini adalah menurunnya frekuensi dan ktivitas penerbangan sehingga berakibat pada usaha lainnya seperti pada usaha agen perjalanan wisata, maskapai penerbangan, agen pengiriman barang, hotel dan restoran serta sektor imformal lainnya. Selain itu terjadinya juga penurunan di sektor pariwisata karena wisatawan mempertimbangkan efek asap bagi kesehatan mereka dan keamanan transportasi menuju ke tempat wisata, mereka khawatir akan terjadi kecelakaan karena gangguan asap, disamping itu kebakaran hutan telah menyebabkan kerusakan hutan itu sendiri yang sebenarnya juga menjadi tempat tujuan wisata (CIFOR 2006).

Dampak kebakaran hutan lainnya adalah terganggunya kesehatan. International Society of Tropical Foresters (2009) menyatakan bahwa zat-zat emisi yang terkandung di dalam asap kebakaran hutan adalah CO2 67%, H2O 25%, CO 6%, dan partikular lainnya 1%. Hal ini berakibat pada penurunan kualitas udara sehingga banyak masyarakat yang menderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Sebagai contoh, pada September 2006 terjadi sekitar 14393 kasus ISPA di Jambi. Terjadi peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan tiga bula sebelumnya yaitu peningkatan sebesar 17,71%. Efek samping lainnya adalah meningkatnya biaya pengeluaran masyarakat untuk biaya pengobatan ISPA. Kemudian timbul juga berbagai penyakit lainnya. Menurut Ari Wibowo (2005) menyatakan bahwa asap yang terhirup juga mempunyai partikel yang besar sehingga partikel tersebut dapat masuk ke alveoli dan bertahan dalam beberapa tahun. Hal ini tentunya dapat mengganggu sistem pernafasan dan menyebabkan penyakit bronchitis, gejala asma, penyakit paru-paru, menurunnya fungsi paru-paru dan penyait kardiovaskular bahkan efek lebih jauhnya dapat menyebabkan kematian. Asap yang ditimbulkan juga dapat bersifat racun yang dapat menyebabkan penyakit yang lebih bervariasi.

Salah satu komponen di dalam hutan adalah satwaliar. Hutan dan satwaliar saling berinteraksi dan menyebabkan terjadinya keseimbangan ekosistem yang mantap. Peranan satwaliar tidak bisa dianggap remeh mengingat 97% penyerbukan dan persilangan yang terjadi di hutan melalui bantuan satwaliar (Komunikasi pribadi dengan Dr. Ir. Abdul Haris Mustari, 2011). Jika terjadi kebakaran hutan maka akan terjadi ketidakseimbangan. Peranan satwa pun akan berkurang mengingat mereka akan melakukan migrasi bahkan dapat mengacam nyawa mereka yang ujungnya dapat menyebabkan kematian. Salah satu contohnya adalah gajah di India, menurut hasil penelitian Ritesh Joshi dan Rambir Singh (2010), kebakaran hutan telah menyebabkan terganggungnya kehidupan liar gajah di Taman Nasional Rajiji dengan rusaknya sumber air alami dan pakan gajah. Selain itu megakibatkan rusaknya habitat mereka dan enyebakan terputusnya beberapa homerange dari gajah tersebut. Kebakaran hutan yang terjadi pada tahun 1997-1998 yang terjadi di Kalimantan telah menurunkan populasi orangutan hingga 30%. Sebelumnya pada tahun 1982-1983 juga terjadi kebakaran hutan di Kalimantan yang meingkatkan angka kematian reptil dan amfibi disana secara drastis (CIFOR 2006). Hal ini tentunya mencerminkan penurunan keanekaragaman hayati (biodiversitas) di Kalimantan.

Dampak lainnya dari kebakaran hutan dalam skala luas adalah terjadinya efek rumah kaca. Pada tahun 1998 terjadi kebakaran hutan di Sumatera, Kalimantan, dan Amazon menyebabkan 12 juta ha lahan yang semulanya hutan menjadi lahan terbuka dan diperkirakan Indonesia berkontribusi menyumbang 1,45 Giga Ton karbon di atmosper pada tahun itu (CIFOR 2006).

Kebakaran hutan juga berpengaruh terhadap aspek hidrologis di hutan. Secara langsung hal ini dapat dilihat dari rusaknya tutupan vegetasi, hilangnya serasah-serasah di hutan dan menurunnya kualitas tanah. Kondisi ini akan mengakibatkan terganggunya fungsi hidrologis dari hutan diantaranya menurun dan hilangnya daya intersepsi dan infiltrasi sehingga mengakibatkan terjadinya run off yang mengakibatkan terjadinya banjir, erosi, serta penurunan kualitas dan simpanan air tanah. Selain itu, akan mengakibatkan menurunnya evaprotranspirasi yang berdampak pada menurunnya curah hujan sehingga terjadi penurunan ketersediaan air tanah (Surnayanti et al 2009).

Dampak dari kebakaran hutan juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas dari kayu. Adanya radiasi dari kebakaran hutan menyebabkan terjadinya perubahan dimensi serat, sel ekstraksi menjadi terstimulasikan dan ketidaknormalan dari bentuk kayu. Relevansi lainnya adalah mempengaruhi tinggi dan diameter pohon, jenis daun dan resistensinya. Lebih lanjut kayu dapat diinvasi oleh jamur, bakteri dan serangga (Budi 2003).

Kemudian kebakaran hutan juga berpengaruh pada vegetasi yang ada di hutan tersebut. Menurut Wima Darwiati dan Faisal Danu (2010), intensitas kebakaran yang tinggi dapat mematikan semua anakan, liana, pancang, tiang dan pohon yang dapat berakibat pada lahan hutan tanpa tegakan. Selanjutnya menimbulkan luka dan stress pada pohon sehingga rentan terhadap pentakit dan hama. Stress juga dapat mengakibatkan riap tegakan menurun dimana efek samping lainnya dapat menurunkan kualitas kayu. Selanjutnya diversitas tumbuhan akan berkurang dan mempengaruhi pola suksesi vegetasi. Apabila banyak pohon yang mati maka fungsi hutan lainnya seperti fungsi tata air dan perlindungan tanah akan terganggu.

Oleh karena itu, dengan berbagai dampak negatif dari kebakaran hutan dibutuhkan tindakan yang tepat dan efektif serta pencegahan dini yang baik demi menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan ekosistem agar tercipta lingkungan yang aman dan nyaman bagi kehidupan seluruh makhluk hidup yang berada didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA

Budi. 2003. Effect Forest Fire on Wood: A Biological (Anatomy Study).

Kalimantan Timur: Mulawarman University

[CIFOR] Center for International Forestry Research . 2003. Kebakaran Hutan di Indonesia: Penyebab, Biaya, Implikasi Kebijakan.

[CIFOR] Center for International Forestry Research. 2006. Forest Fires And Climate Change in Indonesia.

Darwiati W, Danu F. 2010. Dampak kebakaran Hutan Terhadap Vegetasi. Tekno

Hutan Tanaman III (1)

Depari K, Tamapang A, Restu, Surnayanti, Catur W, Stepanus R. 2009. Dampak

Kebakaran Hutan Terhadap fungsi Hidrologi. Bogor: IPB

International Forest Fire News. 2005. The Impact of Forest Fire Damages on The

Total Economic Value of Forest Resources in Turkey.

International Society of Tropical Foresters. 2009. The Effect of Fire in

Agriculture and Forest Ecosystem.

Narendran K. 2001. Forest Fires: Origin and Ecological Paradoks. India:

Resonance

Rambir S, Ritesh J. 2010. Impact of Forest Fires and Shrinking Water

Resources on The Elephant of Rajiji National Park. Iranica Jurnal and of

Energy and Environtment 2010

Wasis B. 2010. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Terhadap Kerusakan

Tanah. Jurnal Manajemen Hutan Tropika IX (2)

Wetlands International. 2005. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Dirjen

Jakarta: PHKA.

Wibowo, Ari. 2005. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Terhadap Polusi

Udara. Info Hutan II (3)

World Resources Institute. 2003. Kebakaran Hutan dan Lahan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar