Senin, 18 Maret 2013

Politisasi Impor

Belakangan ini kita sering mendengar kasus permasalahan terkait impor. Mulai dari permasalahan impor beras yang sudah lama menjadi isu hangat selama bertahun-tahun hingga yang terkini terkait impor daging sapi.

Impor akan menjadi isu yang sangat sensitif bila menyangkut kepentingan banyak pihak, misalnya komoditi pertanian. Ironisnya sebagai negara (yang katanya) agraris, kita malah sering melakukan impor terhadap komoditi pertanian. Mengapa bisa demikian? Benarkah kita tak mampu memproduksinya?

Entahlah, ada banyak faktor yang mempengaruhinya, bisa saja karena memang komoditi pertanian tersebut tak bisa tumbuh dengan baik di Indonesia, misalnya seperti gandum dan kedelai.

Terlepas dari banyak faktor tersebut, sudah menjadi rahasia umum bahwa impor digunakan oleh oknum tertentu untuk memperkaya dirinya ataupun golongannya. Selisih margin impor biasanya cukup besar, apalagi dengan sedikit "polesan" mark up pun dapat dilakukan dengan sedemikian "cantiknya".

Inilah realita yang terjadi. Bukannya kita tak sanggup untuk swasembada berbagai komoditi pertanian, namun tidak adanya "political will" dari pemerintah dan budaya korupsi yang sedemikian akutnya menjangkiti sebagian dari pejabat kita membuat hal ini sulit untuk dicapai.

Harapan kita tentunya, semoga Indonesia dapat benar-benar merdeka dari berbagai macam bentuk korupsi sehingga slogan-slogan saat kampanye (Indonesia adil, makmur, sejahtera, aman dan damai) dapat benar-benar tercapai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar