Minggu, 17 April 2011

Climate Change and Lifestyle

Persoalan Climate Change saat ini adalah persoalan yang sangat banyak dibicarakan banyak orang. Tidak hanya kalangan intelektual saja yang membicarakannya, bahkan penduduk biasa yang berpendidikan rendah pun telah menatap bahwa masalah ini adalah bahaya nyata yang akan tampak dan mengancam penduduk bumi ini. Seolah-olah masalah Climate Change adalah masalah yang sangat serius, yang dapat membahayakan keselamatan semua orang di dunia.

Telah terjadi dramatisasi terhadap isu Climate Change yang implikasinya isu lingkungan semakin meningkat, terutama di Indonesia. Apalagi setelah diadakannya UNFCC di Bali tahun 2008 lalu. Padahal, masih banyak masalah yang lebih berbahaya daripada climate change, masalah kelaparan misalnya. Masalah kelaparan merupakan masalah yang butuh penyelesaian masalah dan pencarian solusi yang sesegera mungkin.

Dalam konteks ini, isu Climate Change yang didengungkan negara barat telah berhasil dikonstruksi menjadi sebuah masalah bersama yang sangat mengancam. Mereka telah berhasil menggiring opini publik melalui media yang mereka kuasai sehingga dengan mudah dapat membuat isu besar dan berbahaya, padahal sejatinya tidak ada yang perlu untuk dikhawatirkan. Tentunya, mereka mempunyai banyak kepentingan melemparkan isu ini ke dunia publik, yang sudah pasti, mereka dengan licik memanfaatkan isu ini demi mendapatkan keuntungan dan berlindung dari perbuatan yang mereka lakukan.

Dengan memafaatkan isu ini, keluarlah suatu aturan dan kesepakatan bagi negara berkembang, yang umumnya masih mempunyai lingkungan yang asri dan hutan yang masih cukup luas untuk tetap menjaganya dengan baik, termasuk Indonesia. Dengan iming-iming imbalan, negara berkembang “dipaksa” untuk tetap mempertahankan hutannya dan harus menjaganya agar tidak ditebang, tidak habis, dan tidak gundul. Oleh karena itu, turunlah berbagai perjanjian dan kesepakatan, seperti Carbon Trade, REDD, dan Moratorium.

Permasalahnnya adalah kesepakatan dan perjanjian tersebut hanya mengikat pada negara berkembang. Negara berkembang diwajibkan untuk menjaga hutannya yang tersisa agar masalah Climate Change ini dapat berkurang dan semakin lama dapat diatasi sehingga penduduk bumi dapat selamat dari bahaya besar ini. Negara berkembang harus mengubah perilakunya untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam setiap pembangunannya sedangkan negara barat hanya membayar saja atas jasa dan tindakan negara berkembang yang telah komitmen untuk menjaga hutannya berdasarkan kesepakatan dan perjanjian yang telah ditandatangani diatas kertas. Namun, negara barat tidak mengubah pola perilaku (lifestyle) mereka. Mereka tidak komitmen untuk menurunkan emisi karbon, tidak melakukan pembangunan yang berwawasan lingkungan, tidak menjaga lingkungan mereka, serta tidak mengubah pola perilaku masyarakatnya untuk lebih bijaksana dan memperhatikan aspek lingkungan.

Hal inilah yang harus dilawan. Tidak adil rasanya jika menuntut suatu negara untuk mengubah pola perilaku sedangkan yang bersangkutan tidak mengubah pola perilakunya. Akan lebih baik jika perubahan pola perilaku untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan dilakukan secara bersama dengan komitmen yang kuat agar terjadi perubahan ke arah yang lebih baik sehingga tercipta suatu tujuan bersama untuk menjaga bumi yang menjadi satu-satunya tempat bagi penduduk bumi yang berjumlah lebih dari 5 milyar.

Negara berkembang yang umumnya masih mempunyai hutan yang banyak, harus lebih jeli dan bijaksana dalam menyikapi segala isu dan permasalahn yang ada. Jangan mudah untuk terpancing dengan kesepakatan dan perjanjian yang sepertinya menguntungkan, Namun hal tersebutlah adalah suatu perangkap yang sangat menguntungkan negara barat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar